Jumat, 17 November 2023

Dampak Fast Fashion bagi Lingkungan

Dampak industri pakaian dan fesyen ke lingkungan



 Akan tetapi, fast fashion memiliki sisi gelap, terutama berdampak buruk terhadap lingkungan, sebagaimana dilansir Earth.org. Menurut analisis dari Business Insider, produksi fesyen menyumbang 10 persen dari total emisi karbon global. Industri fesyen dan pakaian sumber air dalam jumlah besar sekaligus mencemari sungai. 

Di sisi lain, 85 persen dari semua produk tekstil yang tidak terpakai dibuang ke tempat pembuangan setiap tahunnya. Bahkan, mencuci pakaian melepaskan 500.000 ton serat mikro ke laut setiap tahunnya, setara dengan 50 miliar botol plastik. 

Laporan dari Quantis International pada 2018 menemukan bahwa ada tiga aktivitas industri fesyen dan pakaian yang berkontribusi besar terhadap limbah dan polutan global. Ketiga aktivitas tersebut adalah pewarnaan dan finishing 36 persen, penyiapan benang 28 persen, serta produksi serat 15 persen. 

Menurut Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim PBB, emisi dari manufaktur tekstil saja diproyeksikan meroket hingga 60 persen pada 2030. Waktu yang diperlukan suatu produk untuk melewati rantai pasokan, dari desain hingga pembelian, disebut lead time atau waktu tunggu. Beberapa brand fast fashion mampu merancang, memproduksi, dan mengirimkan produk baru dalam dua pekan hingga delapan pekan. 

Jika industri fast fashion hanya membutuhkan waktu yang singkat dari desain hingga menjadi barang jadi yang dikirim, maka semakin besar dan cepat pula polutan yang mereka hasilkan.


Dampak Fast Fashion ke Lingkungan

Bahkan, mencuci pakaian melepaskan 500.000 ton serat mikro ke laut setiap tahunnya, setara dengan 50 miliar botol plastik. 

Laporan dari Quantis International pada 2018 menemukan bahwa ada tiga aktivitas industri fesyen dan pakaian yang berkontribusi besar terhadap limbah dan polutan global. Ketiga aktivitas tersebut adalah pewarnaan dan finishing 36 persen, penyiapan benang 28 persen, serta produksi serat 15 persen. 

Menurut Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim PBB, emisi dari manufaktur tekstil saja diproyeksikan meroket hingga 60 persen pada 2030. Waktu yang diperlukan suatu produk untuk melewati rantai pasokan, dari desain hingga pembelian, disebut lead time atau waktu tunggu. Beberapa brand fast fashion mampu merancang, memproduksi, dan mengirimkan produk baru dalam dua pekan hingga delapan pekan. 

Jika industri fast fashion hanya membutuhkan waktu yang singkat dari desain hingga menjadi barang jadi yang dikirim, maka semakin besar dan cepat pula polutan yang mereka hasilkan. 

 Dampak fast fashion ke lingkungan Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, industri fesyen dan pakaian saja sudah berdampak buruk terhadap lingkungan dari limbah dan polutan yang dihasilkan. Ditambah lagi, fast fashion yang makin menjadi gaya hidup membuat limbah dan polutan dari industri fesyen dan pakaian dikhawatirkan bakal berlipat ganda.

Masih dilansir dari Earth.org, berikut dampak buruk fast fashion terhadap lingkungan.

1. Dampak fast fashion terhadap air 

Fast fashion menyebabkan penipisan sumber daya tak terbarukan, menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK), dan memakai air serta energi dalam jumlah besar. Industri fesyen adalah industri terbesar kedua di dunia yang mengonsumsi air. 

Industri ini membutuhkan sekitar 2.649 liter air untuk memproduksi satu kemeja katun dan 7.570 liter air untuk memproduksi celana jeans. Business Insider juga memperingatkan bahwa pewarnaan tekstil adalah pencemar air terbesar kedua di dunia, karena sisa air dari proses pewarnaan sering dibuang ke selokan, sungai, atau sungai. 

2. Fast fashion dan mikroplastik 

Beberapa brand menggunakan serat sintetis seperti poliester, nilon, dan akrilik yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Sebuah laporan dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) yang dirilis pada 2017 memperkirakan bahwa 35 persen dari semua mikroplastik di lautan berasal dari pencucian tekstil sintetis seperti poliester. 

Menurut film dokumenter The True Cost yang dirilis pada 2015, ada sekitar 80 miliar potong pakaian baru terjual setiap tahunnya. 

 3. Energi yang dibutuhkan fast fashion 

Produksi pembuatan serat plastik menjadi tekstil adalah proses yang membutuhkan banyak energi yang mengonsumsi minyak bumi dalam jumlah besar. Proses ini melepaskan partikel yang mudah menguap dan asam seperti hidrogen klorida. 

Selain itu, katun dalam jumlah besar yang merupakan produk fast fashion juga tidak ramah lingkungan untuk diproduksi. Pestisida yang diperlukan bagi petani untuk membudidayakan kapas sebagai bahan baku katun menimbulkan risiko kesehatan bagi petani itu sendiri.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

BTemplates.com